• Admin

Love Is In The Air


Oleh: Reka Nugraha



Di ruang redaksi Golosor Times, dalam beberapa pekan ini film dokumenter pendek pemenang Oscar dari gelaran Academy Awards ke 92, Learning to Skateboard in a Warzone (If You're a Girl) tentang para anak-anak perempuan di Afganistan, menjadi bahan perbincangan kami. Selain itu ada juga film yang menceritakan tentang Suganthi, seorang ibu dari desa Mahabalipuram, daerah pesisir Tamil Nadu, India, bertekad untuk mengupayakan anaknya Kamali, agar mampu mengakses pendidikan yang sebelumnya dia belum pernah memiliki. Kamali senang bermain Skateboard, dengan nya mendobrak status quo stereotip kultural atas perempuan desa India yang dilahirkan hanya dengan satu tujuan utama dalam hidupnya, yaitu menikah dan melayani suami nya kelak. Dua film tersebut menjadi bahan referensi kami, memahami bagaimana Skateboard dapat juga berfungsi sebagai medium pemberdayaan individu – yang kemudian tema tersebut kami angkat untuk edisi cetak kedua kami –


Belum lama ini seorang teman yang masih dalam satu lingkaran skena skateboard, membagikan tautan unggahan seorang perempuan yang buka suara atas kasus pelecehan seksual yang menimpa dirinya. Kami terhenyak, berusaha memahami situasi yang terjadi, karena ini sangat bertolak belakang dengan apa yang kami percaya dan menjadi perbincangan kami akhir-akhir ini, skateboard sebagai medium pemberdayaan. Kemudian kami mencoba mulai menulusuri dan mencari akses terhadap penyintas.


Pelecehan seksual bisa mengarah menjadi kekerasan seksual seperti perkosaan. Jika tindakan yang dilakukan oleh pelaku menimbulkan bekas atau per-luka-an. Dalam catatan (komnasperempuan.go.id: 15 Bentuk Kekerasan Seksual.pdf ) Komnas Perempuan mencatat, selama 12 tahun (2001-2012), sedikitnya ada 35 perempuan menjadi korban kekerasan seksual setiap harinya. Pada tahun 2012, setidaknya tercatat 4.336 kasus kekerasan seksual, dimana 2.920 kasus diantaranya terjadi diranah publik / komunitas. Melanjutkan catatan tersebut, tahun 2018 jumlah kasus yang dilaporkan meningkat sebesar 14%. Jumlah kasus KTP 2019 sebesar 406.178, jumlah ini meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 348.466 (Catatan Tahunan Kekerasan Terhadap Perempuan 2019.pdf).


Sebagian dari kita tentunya sudah menyadari, banyak dari para korban pelecehan lebih memilih ruang media sosial untuk menyuarakan haknya atas keadilan, kebenaran dan simpati dari khalayak. Hal tersebut bukan tanpa alasan, karena “praktik speak up itu bentuk solidaritas yang saat ini dijalankan sangat berfungsi untuk menggalang dukungan terhadap korban. Psikologi korban kebanyakan memilih diam ketika terjadi abuse dengan alasan takut ter-blow up dan mencoreng nama keluarga, memilih tidak melaporkan karena proses hukum berbelit, sering kali juga korban bisa menjadi tersangka untuk kasus-kasus revenge porn.” Ungkap Harold Aron dari Public Interest Lawyer/Jaker Gotong Royong.


Alhasil, para korban merasa tidak mendapatkan keadilan. Tidak jarang korban kekerasan dan pelecehan seksual takut untuk melaporkan ke pihak berwajib karena tidak ada penanganan serius dan dukungan dari berbagai pihak. mereka takut jika melapor, justru ia yang terjebak dalam proses hukum (geotimes.co.id: Kekerasan Terhadap Perempuan Dari Budaya Patriarki Sampai Penegakan Hukum. Diakses pada tanggal 24.08.2020).


Sebagaimana kita ketahui, kekerasan seksual terjadi tanpa ada saksi yang melihat langsung, korban juga cenderung enggan menceritakan kepada orang lain. Ketika korban melaporkan kasus perkosaan, maka ada pertanyaan baik dari korban sendiri maupun aparat penegak hukum: "Apa buktinya?". Pengalaman penanganan kasus kekerasan seksual yang terhambat karena sistem pembuktian ini coba diatasi oleh RUU PKS yang menegaskan bahwa keterangan korban adalah alat bukti yang sah dan ditambah satu alat bukti lainnya sudah cukup untuk membuktikan kesalahan terdakwa (cnnindonesia.com: Suara Korban Suara Tuhan Di Kasus Pelecehan Seksual. Diakses pada tanggal 24.08.2020).


Walau memang tidak banyak yang bisa diharapkan dari pihak berwajib maupun para penegak hukum dalam penanganan pelecehan seksual, tapi tentunya ada hal yang bisa/perlu dilakukan oleh korban pelecehan seksual, seperti yang disebutkan oleh Harold Aron “Korban menjumpai layanan-layanan yang pro terhadap korban untuk urusan psikologis dan juga hukum. Tapi terlebih dahulu harus mengatasi masalah psikologisnya untuk melangkah ke babak pengaduan hukum.” Kemudian Harold menambahkan lagi “… perspektif sih yang dikedepankan, soalnya tricky ini tuh, orang yang dipercaya (yang dipilih korban untuk bercerita soal kasus pelecehan yang menimpa dirinya) belum tentu punya pola pikir yang bener untuk masalah gini apalagi kalo orangnya kenal juga dengan pelaku (untuk kasus kekerasan dalam pacaran).”


Sehingga dapat mudah difahami, seperti kasus yang teman kami bagikan itu, membuat korban lebih memilih ruang sosial media untuk bersuara atas apa yang menimpanya. Walau tentu masih ada saja segelintir orang yang berada dalam lingkaran skena skateboard nya menganggap apa yang dilakukannya tersebut adalah salah, beralasan akan berdampak buruk bagi citra skena skateboard itu sendiri.


Dengan kami menangkap cerita tersebut, maka kami pun tidak mau untuk berdiam diri, kami mencoba mendapatkan cerita kronologis penyintas, untuk kemudian merangkai pemahaman hubungan sebab-akibat, dan memulai sedini mungkin membangun kesadaran kolektif untuk mengantisipasi perlakuan yang melecehkan, bahkan yang berujung pada tindak kekerasan, belajar dari kasus yang telah terjadi di skena skateboard.


*Kami sangat menghormati dan berterima kasih kepada penyintas yang telah berbagi cerita. Nama penyintas dan lokasi kejadian kami samarkan atas alasan privasi dan menghindari pandangan negatif terhadap tempat kejadian, karena kami yakin, ini hanya dilakukan oleh segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab.


Sebut saja Puan, ia mendapatkan keberanian untuk bersuara setelah satu tahun lamanya menyimpan duka dan trauma sebagai penyintas pelecehan seksual. Memberanikan diri bersuara setelah mendapati unggahan instagram dari @parlemen.sk8 yang mengunggah ulang kasus perkosaan yang dialami @amyfitria.s yang terjadi hampir satu tahun lalu (baca: 2018), dalam unggahan tersebut menuliskan “Lives in the perkampungan behind Permata Bintaro (sektor 9), dia suka ngeskate.” – tapi kemudian setelah ditelusuri dan tertangkap pihak berwajib, oknum tersebut bukanlah skateboarder “Fix pelakunya bukan anak Skateboarder Bintaro... poser doang” tulis @palemen.sk8 – dalam kolom komen itulah kemudian untuk pertama kalinya Puan bersuara


“Aku jujur om ya bukan dia doang aku juga pernah tu secara langsung juga sama temen skate dan setelah mereka gak sopan sama aku malah ketawa-tawa sama yg lain. Kayanya musti sabar tapi semakin ga dihargain sebagai perempuan.” Berlanjut, pada postingan instastory-nya beberapa saat kemudian “saya sebenarnya ingin melapor kepada pihak berwajib, tapi karena saya kurang bukti, Akhirnya saya beranikan diri untuk bicara melalui sosial media, walaupun saya terlihat biasa saja, tapi jujur mental saya rusak karena kejadian bodoh seperti ini.”


Dalam penuturannya saat kami hubungi, ia menambahkan “Aku sebenernya sudah cuek tentang masalah ini, Karena menghantui aku selama bertahun-tahun dan juga sampai saat ini orang disekitar ku juga melakukan pelecehan, namun bukan dalam tindakan melainkan gaya bicara maupun topik bahasa yang menjatuhkan martabatku sebagai wanita. Setiap saat sering terjadi yang membuat aku gak nyaman.”


Puan, ketika kami tanyai perihal detail kejadian menurut runutan waktu, juga menuturkan kalau dirinya adalah korban bullying sewaktu SD, kemudian berlanjut dia menceritakan kalo dia mengalami perlakuan tak senonoh untuk pertama kalinya itu ketika malam setelah mengikuti acara kompetisi Skateboard di Skatepark S****r, B***r, tahun 2018 saat dia masih berusia 17 tahun.


“Kejadian pertama itu september 2018 pada saat itu usia 17 tahun, Awalnya orang sekitar support aku untuk berangkat kesana (acara kompetisi skate di B***r) karena aku kurang memiliki keberanian untuk kesana bawa kendaraan sendiri, akhirnya aku menggunakan moda transportasi kereta…. setelah kompetisi aku bercanda sama semua teman-teman dan orang sekitarku, lalu aku shalat isya, ganti baju, berbenah, tapi karena mushola dan kamar mandinya minim, jadi mengantri agak lama, dan ku fikir aku pulang sama mereka bareng-bareng, ternyata mereka sudah duluan pulang, sudah tidak ada di lokasi tempat bercanda tadi.”


Ditinggal pulang oleh teman-temannya, Puan yang kala itu masih baru di skena skateboard, datanglah oknum IR yang menawarkan untuk mengantarkan dirinya ke stasiun. Paun sendiri sebenarnya belum pernah mengenal IR, tetapi karena desakan situasi-kondisi, ditambah ia sendiri buta daerah B***r kemudian meng-iya-kan tawaran tersebut. Dalam perjalanan IR menawarkan untuk makan malam, sampailah mereka di restaurant 2 lantai yang jarak lantainya agak berjauhan.


“Restaurantnya sangat sepi hanya terdapat 1 orang aku lihat, terdapat juga beberapa sofa dan meja makan aku pun duduk di sofa dan IR itu lama sekali belum kembali, setelah akhirnya IR kembali dan aku berdiri dari sofa tersebut tiba tiba IR membanting tubuhku ke sofa kemudian menahan tangan dan kakiku, aku berontak keras namun pada saat itu sangat sulit untuk lepas. Wajahnya mengarah ke wajahku seperti ingin menciumku . Kemudian handphone ku berbunyi, ternyata mamahku telfon, aku mau ambil handphone ku, aku berontak. Mendapati handphone ku, namun tidak sempat aku klik apapun jadi tidak terangkat. Handphoneku diambil IR dan langsung dilempar jauh. Selanjutnya dia semakin erat menahanku seperti ingin menimpa tubuh ku karena aku berontak sangat kuat. Aku akhirnya menangis sangat keras aku ketakutan selanjutnya tiba tiba IR ini melepaskan aku dan minta maaf. Lalu aku diantarnya ke stasiun. Setelah kejadian itu aku gak tau harus gimana aku nunduk, sempat pula diliat oleh security kereta mungkin karena gelagat ku yang aneh karena aku betul-betul takut.”


Setahun setelahnya kejadian tersebut terulang kembali saat ia duduk di kelas 3 SMA, dalam penuturannya “aku sempat dipegang payudara oleh satpam masjid tempat ku parkir kendaraan kalau berangkat sekolah, yang membuat pribadi ku jadi hancur karena aku ingat kejadian waktu di B***r itu. Aku menjadi seorang yang introvert gak berani dekat orang di sekolah. Selalu sendiri dan hanya membaca buku.”


Kemalangan yang dialami Puan terus berlanjut untuk ketiga, hingga keempat kalinya. Dua kejadiannya itu semua terjadi di lingkaran skena skateboard. Saat kali ketiga terjadi di skatepark K******o, “Next kejadian yang kedua (yang terjadi di skatepark) itu di skatepark k******o, ada seorang oknum skater berinisial WN, dia tiba-tiba memelukku sambil meraba, mengelus payudara ku dengan modus pura-pura jatuh. Sontak refleks aku lempar papan skateboard, dan langsung nangis ingat lagi kejadian masa lalu, aku sangat marah disitu karena posisi itu juga ramai. Teman aku yang hanya melerai pertengkaran kami, bahkan aku sudah menjelaskan bahwa dia memegang payudara aku, teman ku hanya menindak pelaku untuk menjauh dan tidak menegur pelaku. Saat itu aku pulang ke rumah dan sangat sedih, merasa gak aman, seolah-olah itu hal wajar, gak ada yg membela aku.


Kejadiannya selanjutnya, ia mengungkapkan “ini sering terjadi oleh beberapa oknum skater yang aku gak kenal dimanapun lokasinya, tiba-tiba menghampiri ku untuk memeluk atau pun pernah sampai mencium pipiku di depan skater lain, dan mereka hanya tertawa. Melihat hal tersebut refleks ku marah, tapi itu pun gak ditanggapi.”


Sampai pada bagian terakhir tadi, kalian yang menyimak cerita nya pasti banyak mempertanyakan dalam benak sendiri, bagaimana semua ini bisa terjadi? Apa penyebabnya? Pun, kami tak pelak pula memiliki rasa keingintahuan serupa, kemudian Paun dalam penuturannya: “Aku gak paham, tapi aku tanya dari temen-temen, aku terlalu ramah sama orang. Karena di zaman sekarang ramah juga butuh ketelitian sendiri. Ramah juga bisa dijadikan simbol bodoh oleh orang-orang tertentu, kalau kata teman aku gitu.”


Dihadapkan dengan kenyataan, ada banyak sekali faktor sebagai sebab terjadinya pelecehan seksual, dan semuanya bisa saling berkaitan satu dengan yang lainnya, yang pernyataan Puan diatas pun bisa menjadi salah satunya, tapi mari untuk membahas lebih luas lagi tentang bagaimana kekerasan seksual berbasis gender ini terus melanggeng. Mau tidak mau kita akan menyinggung pernyataan Gayle S Rubin dalam essay nya Thinking Sex: Notes for a Radical Theory of the Politics of Sexuality, yang menuliskan “Ranah seksualitas juga memiliki kepentingan politik internal, ketidakadilan, dan memiliki pola menindas. Seperti aspek perilaku manusia lainnya, bentuk konkret kelembagaan seksualitas pada waktu dan tempat tertentu adalah produk dari aktivitas manusia."


Lebih jelasnya; Sejarah perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang, melalui proses sosialisasi, diperkuat, bahkan dikonstruksikan secara sosial, kultural, melalui ajaran agama maupun negara. Masyarakat, Negara dan ajaran agama turut serta menciptakan sikap dan prilaku berdasarkan gender. Konsep gender yang selama ini berkembang dalam masyarakat telah menciptakan ketimpangan dan menjadi akar dari budaya patriarki. Perempuan dibentuk dan didefinisikan sebagai makhluk yang lemah dan emosional, sementara laki-laki makhluk yang kuat dan rasional. Bersumber dari artikel Akar Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang tulis oleh Witriyatul Jauhariyah (jurnalperempuan.org: Wacana Feminis Akar Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan. Diakses pada tanggal 24.08.2020)


Sehingga alih-alih memanfaatkan privilege ke laki-laki an yang dimilikinya untuk melindungi, bagi sebagian oknum malah dipergunakan untuk melegitimasi superioritasnya terhadap perempuan. Tentunya masih terdapat faktor lain-lain pula tidak bisa dipisahkan seperti faktor psikologis, senioritas, kemiskinan, dan ketimpangan sosial; Kegagalan sosial ini memberikan tekanan struktural tertentu pada individu. Tekanan ini dapat menjadi bahan bakar bagi terjadinya kejahatan kekerasan (nasional.kompas.com: Kekerasan dan Kultur Patriarki. Diakses pada tanggal 24.08.2020).


Beruntung untuk momen sekarang Puan memiliki support system yang baik dari lingkaran skateboard-nya, yang membuatnya bisa lebih nyaman dalam beraktifitas, tetapi memori akan trauma yang muncul sebagai akibat dari pelecehan seksual yang dia terima pada waktu-waktu sebelumnya akan tersimpan di dalam alam bawah sadarnya.


Sebagai gambaran memahami trauma psikologis yang mungkin dialami oleh korban pelecehan seksual/kekerasan seksual, itu bisa mengarah kepada beberapa hal seperti depresi, rape trauma syndrome, disasosiasi, gangguan makan, hypoactive desire disorder, dysparuenia, vaginismus, diabetes Tipe 2. Dan juga apa yang dialami korban mampu pula berdampak terhadap relasi sosial nya, tergantung berat dan lamanya tindakan pelecehan tersebut seperti Sulit percaya pada orang lain, Kurangnya empati, mengisolasi diri, menurunnya prestasi sekolah/kerja, Ketakutan membina hubungan atau relasi secara dekat, perubahan mood yang bisa berupa hyper sensitif (mudah tersinggung), menjadi sangat impulsif, anger (kemarahan) dan atau agresi baik terhadap lingkungan maupun kepada diri sendiri.


Akan dibutuhkan waktu lama untuk benar-benar pulih dari perasaan trauma yang menghantuinya. Sehingga dukungan dari lingkungan dan pihak-pihak terkait akan sangat membantu korban untuk mengatasi trauma yang dialaminya. Ragam upaya dapat dilakukan untuk mendukung upaya pemulihan korban, diantaranya:


Terbuka dan bersikap supportive, tidak judgmental; Sikap ini akan mendorong korban untuk bercerita dan tidak menutup-nutupi kejadian negatif tersebut. Korban akan merasa lebih lega dan seiring pemulihan berlangsung akan menerima pengalaman negatif tersebut dan bahkan menarik pelajaran positif yang berguna untuk ke depan.


Menerima dan melibatkan korban untuk kembali beraktivitas di lingkungan sosialnya; Tentunya disesuaikan dengan kondisi korban dan kesiapannya untuk kembali berkegiatan sosial yang melibatkan pihak-pihak lain. Bila perlu, anjurkan dan temani korban berkonsultasi lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater agar bisa dilakukan terapi untuk menangani trauma psikisnya.


Dari hubungan sebab-akibat, posisi korban yang lemah dimata hukum ketika memproses kasus pelecehan seksual nya, serta beratnya trauma yang menghantui penyintas, membuat kita menjadi faham, kalau dalam kenyataannya hal yang paling mudah kita bisa lakukan sebagai bagian dari komunitas adalah membangun kesadaran kolektif untuk mengantisipasi perlakuan yang melecehkan mulai dari sesuatu yang sederhana. Seruan sedia payung sebelum hujan mungkin sah kita gunakan sebagai analogi mudahnya. Penggunaan istilah “payung” disini pun bisa kita kaitkan pada Moral Compass yang ada pada diri kita masing-masing. Suatu perbekalan akal yang kita miliki dalam melakoni Hidup, bahkan semenjak kita masih dalam rahim, kemudian terbentuk oleh ruang sosial seiring berjalannya waktu.


Dengan Moral Compass ini mereka lebih mampu memelihara dan membangun hubungan positif dengan orang-orang dan sekitarnya. Mereka meminimalkan hal-hal yang mencelakakan dan memaksimalkan kontribusi mereka. Dengan kata lain, mereka memberi kembali sebanyak yang mereka terima atau bahkan mungkin lebih (huffpost.com: Finding Your Moral Compass. Diakses pada tanggal 24.08.2020).